Wanita itu berjalan dengan terhuyung-huyung, memanggul beberapa bungkus donat di dalam sebuah wadah, sambil mengendarai sebuah sepeda ia berteriak disepanjang gang menjajakan donat yang ia buat. Wanita itu melapisi kardus donat dengan sebuah plastik panjang agar terhindari dari debu dan terik matahari yang dapat membuat gula tabur meleleh. Laju sepeda yang ia kayuh tidak terlalu cepat, ia khawatir jika orang yang hendak membeli jualannya tidak dapat mengejarnya dan ia pun khawatir tidak dapat mendengar panggilan orang yang hendak membeli barang dagangannya.

Sepeda yang yang selama ini setia menemaninya, ia beli dengan hasil jerih payah selama menjual donat-donat. Tidak seberapa memang harganya, namun dalam setiap tarikan kakinya kala mengayuh, terdapat sebuah doa akan penjualan yang melonjak hari demi hari. Maka sepeda ini bagaikan sepeda motor berharga ratusan juta rupiah baginya dan tentu sepeda ini adalah penyambung harapan hidup keluarga yang ia sayangi. Peluh yang keluar tak pernah dirasa, pun dengan terik matahari yang kian hari kian terik dan membuat kulit mulusnya berubah terbakar matahari. Sungguh luar biasa ibu yang satu ini.

Satu wilayah desa Pintu Air yang terletak di Rancaekek Kulon biasa ia lalui dengan kayuhan sederhana, mengelilingi desa tersebut bagaikan berjalan di tengah jalan beraspal dengan terik matahari yang sangat menyengat ~ panas. Bu Iroh, biasa ia dipanggil. Perawakannya tidak terlalu tinggi, namun cukup proporsional untuk seorang perempuan. Ia biasa berbahasa dengan ucapan yang terdengar kasar, namun begitulah caranya berbicara. Suami yang dulu ia cintai, kini meninggalkannya dengan memberikan beban kehidupan berupa tiga orang anak yang masih memerlukan pendampingan sosok seorang ayah. Tapi lisannya tak pernah terucap kata keluh kesah, ia tetap berdiri tegap menghadapi semua cobaan yang datang. Kaki dan kayuh sepeda sudah seperti bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.

Suatu ketika tangis pernah tertumpah, keluh hampir terucap. Ia berujar bahwa “tuhan sepertinya sedang mengujinya” ~ namun, ada sebuah rasa bangga dalam dirinya tatkala ia menyadari bahwa ia dapat menghidupi keluarga kecilnya hanya dengan sebuah donat dan sepeda. Ia berujar “saya perempuan tangguh, tidak mungkin kalah oleh hal lain, selama anak masih membutuhkan saya, saya akan terus bekerja sampai mereka bernasib berbeda dengan saya”. Seketika tangis terhenti dan keluh tak terucap kembali, ia berdiri dan mulai mengayuh kembali menyusuri setiap jalanan yang ada di desa. Sambil sesekali berteriak menjajakan donat dengan suara yang lantang dan khas.

Bagi setiap orang yang pertama kali memandangnya, kesan negatif mungkin yang akan terlontar. Terlebih gaya bicara dan bahasa yang sering terlontar terkesan kasar, terkadang kata-kata kotor yang lebih mendominasi. Namun, tampilan fisik yang terlihat pada pandangan pertama tidak dapat menjadi sebuah penilaian mutlak bahwa orang yang ada di depan itu sama seperti ucapan yang terlontar. Ibu Iroh terkesan kasar, sering berbicara kotor, namun tidak ada yang tahu bahwa ia berjuang sendirian menghidupi keluarganya. Setiap pagi ia membuat donat, membiarkan jam istirahat yang seharusnya ia gunakan semaksimal mungkin terpakai untuk membuat donat-donat. Kemudian, ketika siang ia mengayuh sepeda di tengah terik matahari hingga peluh deras mengalir. Ia tidak pernah mengeluh, bukan karena ia merasa butuh, namun hal tersebut adalah kewajiban dirinya dalam menjaga titipan tuhan dan menjaganya hingga tumbuh dewasa dengan wajar.

adminFoundation